web site hit counter Bubu Okky » bloggaul.com
     
    HOME BLOG
   
  Bubu Okky
http://bubu_okky.bloggaul.com
Login | Belum terdaftar? | Lupa password?  
   
   

PENGUMUMAN:
Tebarkan Amalan, tebarkan Senyuman
 
Jumat, 5 September 2008 @ 13:26 WIB - Diari


Bagiku, pengkhianatan adalah crime yang tak terampuni.
Salah menapakkan kaki, perselingkuhan terjadi !
Nuranipun berontak, aku tak ingin jadi penjahat cinta !!

Saat kuliah, aku sering dijuluki wanita setia oleh teman-temanku. Pasalnya selama tiga tahun pacaran, aku tak pernah pindah ke lain hati. Padahal bukannya somse, penggemarku cukup banyak. Sampai suatu saat, pacarku selingkuh. Dunia serasa kiamat, bumi rasanya runtuh.

Bersama teman-teman kuliah, aku membuat diskusi. Topiknya : Buat apa kita setia ?
Hasil diskusinya cukup menggelikan : Selama cincin di jari manis belum melingkar, kita masih bebas tebar pesona. Rugi mematrikan diri pada satu lelaki !
Meski sedang patah hati, aku tetap gak sefaham dengan mereka. Cuma sering muncul saja pertanyaan, mengapa banyak laki-laki yang tidak menghargai kesungguhan cinta pasangannya? Aku juga tidak suka kepada wanita yang tega merebut pasangan orang lain. Iihhh..masih banyak pria bebas di luar sana, mengapa malah pilih ‘properti’ orang lain ? Selesai diskusi, aku pulang dengan satu fikiran di hati : Kesetiaan itu mahal harganya.

Setahun kemudian aku kembali jatuh cinta. Kali ini aku dapat pacar yang lebih Ok dibanding pacar terdahulu. Tapi yang paling penting ia punya reputasi yang bikin aku aman : dia sangat setia ! Sayang baru beberapa bulan pacaran aku ditugaskan ke negeri Kangguru untuk sebuah projek kerja. Saat jauh dari pacar, kesetiaanku betul-betul diuji.

Beberapa lelaki mencoba menggodaku. Jujur, aku berusaha sekuat tenaga menahan godaan itu. Tapi akhirnya luluh juga. Aku jatuh cinta pada orang lain. Ternyata jauh dari keluarga dan kekasih, membuat perhatiannya jadi amat menonjol. Saat aku sakit misalnya, ia rela cuti dari kantornya, hanya untuk merawatku. Padahal ia sudah bertunangan dengan seorang gadis di Surabaya.

Suatu hari saat kami lunch berdua, tunangannya menelepon dia. Aku mendengar ia berbohong dan mengatakan kalau dia sedang sendirian. Aku sebel sekaligus gak rela mendengarnya bermanis manja dengan wanita di seberang sana.

Suatu hari ia datang menghampiriku di apartemen dan mengungkapkan perasaannya kepadaku. Ia jatuh cinta padaku. Aneh sekali. Aku senang mendengarkannya. Yang mengerikan, terbersit di dalam hatiku, rasa menang bisa membuatnya berpaling dari tunangannya. Tuhan, apa yang terjadi pada diriku ? Mengapa aku senang atas penderitaan wanita lain ? Mengapa aku tak perduli dengan perasaan pacarku, jika ia tahu? Lalu kemanakah larinya prinsipku untuk tetap setia dengan satu pria saja ?

Mesti hati nuraniku berontak, kuterima juga cintanya. Herannya bukannya dimabuk cinta, aku malah dilanda resah. Aku coba merenung dan kembali mendengarkan kata hati. Kugunakan logika, bukan hanya mata dan perasaan saja, untuk ‘melihat’ segalanya.
Keesokan harinya, akupun memutuskan aku tak mencintainya. Aku tidak ingin menjadi duri dalam daging. Kuputuskan untuk menepi dari kisah cinta yang hanya sejenak itu. Bukannya sedih, aku malah lega luar biasa.

Semuanya memberiku pelajaran amat berharga.
Bahwa semua orang punya kans untuk menjadi penjahat cinta. Jika logika buntu dan bisikan hati terabaikan, semua jadi kelihatan sah-sah saja.

Selingkuh itu indah ? Siapa bilang ?
Setidaknya, bukan untukku.

*****
Dedicated to my sista Tik Tik Kartika Muchaimy, happy blithday to U, beibz....Luv U more n more...
Tenanglah di sisi_Nya...


Disarankan: 0
  Komentar: 13 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Selasa, 2 September 2008 @ 14:18 WIB - Diari



Masih banyak yang ingin kukabarkan tentang ibu pada Wina. Perihal sakitnya belakangan ini, juga tentang kesedihan yang menggayut di wajah tuanya. Bahwa ibu telah memaafkan Wina. Tapi begitu pintu kamar kosnya digedor, aku merasa niat itu bakal lebur dalam sekejap.

Benar saja Wina menyuruhku menunggu. Dia bergegas menyambut tamunya. Pintu kamar ditutup dari luar. Mungkin ia tak ingin aku menguping percakapannya.

Untuk menunggu waktu, kujelajahi kamar Wina yang terbilang mewah. Ada Tv, kulkas, audio, laptop. Aku heran darimana Wina mendapatkan ini semua. Prasangka buruk menggelitik batok kepalaku. Aneka parfume dan peralatan kecantikan tersusun dengan rapi memenuhi meja rias. Ada yang miris saat di atas meja hias tergantung sepasang foto dalam bingkai merah jambu. Foto keluarga ketika masih kecil dan foto Wina sekarang dengan pakaian seronok dilatari bibir pantai. Ah Wina..Wina. Hidup memang aneh dan sulit ditebak.

Tak lama kemudian Wina keluar dari kamarnya.
“ Aku tidak bisa pulang sekarang kak, masih ada urusan “, katanya ketus. Aku mendengus. Dasar anak bandel. Sia-sia saja aku membujuknya.

Di akte kelahiran, tercatat nama aslinya : Kartiwan, biasa dipanggil Iwan. Ia lahir sebagai lelaki normal. Tapi siapa bisa menebak jalan hidup seseorang ? Setelah dewasa, Iwan menyulap dirinya menjadi waria. Keputusan yang nekad, mengingat keluarga kami masih berbau ningrat. Sejak itulah, sebutan Iwan tidak berlaku lagi.

Sejak kecil Iwan sudah memperlihatkan tabiat gajil. Ia lebih suka bergaul dengan kaum hawa. Mengoleksi boneka. Tingkah lakunya pun feminin. Kamu mesem-mesem saja melihat kelakuannya.
“ Wong gagah, tapi koq gemulai , “ celetuk ibu. Ternyata kami kecolongan. Api dalam sekam itu diremehkan hingga membumbung tinggi dan akhirnya sulit dipadamkan.

Suatu hari lima tahun yang lalu, rumah bergetar. Bapak menemukan perkakas perempuan berada di kamar Iwan. Lip stick, bedak, eye shadow, celana dalam, kutang dan bahkan pembalut wanita. Alangkah terkejutnya kami. Tak ayal lagi Iwan dihajar bapak habis-habisan.
Alangkah malunya kami, Iwan sudah mencoreng nama baik keluarga kami. Hampir tiap hari kepalan tangan bapak mampir di tubuhnya dan ibu hanya bisa pasrah. Beruntung ibu yang tabah selalu ada di sana. Di tengah dua kutub yang berbeda.

“ Kalau tahu akan begini jadinya, sudah dari orok dia kubunuh,” kata bapak sehari setelah Iwan diusir dari rumah. Dan sejak itulah Iwan bukan lagi menjadi bagian keluarga kami.

Wina duduk di hadapanku. Gerak geriknya seperti bocah yang merajuk saat tidak diberi uang jajan.
“ Pulanglah Win, kasihan ibu sakit, jenguklah olehmu ,” bujukku. Kalau tak ada orang lain di salon itu, sudah kutampar mukanya. Masa seorang kakak harus merayu adiknya setengah mati.
“ Aku lagi sibuk, kak. Akhir-akhir ini langgananku banyak,” elaknya.
“ Lebih penting mana, nyawa ibu, atau langgananmu ?”, kesabaranku sudah hilang.
Kutinggalkan dia tanpa permisi. Tebal rasanya mukaku meratap-ratap di depan seorang waria dan dipelototi manusia sejenisnya.

Firasatku tidak meleset, ibu pulang semalam. Kerabat dan famili berdatangan. Rencananya ibu akan dikebumikan besok jam sepuluh pagi.
Wina belum tahu berita ini. Kucoba berkali-kali menghubunginya, namun hand phone nya tidak aktif. Akupun mengirimkan pesan via SMS. Mudah-mudahan dia sempat membacanya.

Waktu bapak meninggalpun dia tidak datang. Apakah sekarang, saat wanita yang melahirkannya dengan susah payah dan melindunginya dari segala kesulitan wafat, diapun tidak akan datang juga.? Manusia macam apa dia. Apa dia tak lagi berfikir surga tak lagi di telapak kaki ibu ?

Begitulah jam sembilan pagi, iring-iringan jenazah bergerak menuju pemakaman. Puluhan bahkan ratusan kerabat dan handai tolan mengantarkan ibu ke tempat yang terakhir. Sesuai rencana, ibu akan dimakamkan tepat di samping makam bapak. Akhirnya sepasang merpati itu berkumpul kembali.

Langit mendung, awan hitampun mengepung. Wajah-wajah kuyu mulai memasuki areal pemakaman. Tak lama lagi, ibu berkalang tanah.

Kami terkesima begitu sampai di rumah ibu yang baru. Ada sebutir kepala menyembul dari balik permukaan tanah.
Lebih kaget lagi ketika mengetahui siapa pemiliknya. Itu Wina ! Dia berdiri tegak di liang lahat. Entah sudah berapa lama ia menunggu di sana.

Berpasang mata memperhatikannya. Lihatlah anak itu. Dia datang ke pemakaman ibu sebagai lelaki tulen. Sulit untuk dipercaya. Tapi mataku yang sembab masih sempat mengenalinya. Kopiah hitam bertengger di balik rambutnya yang dipotong cepak. Padahal baru saja dua hari yang lalu, rambutnya panjang terurai. Sungguh dia persis seperti Iwan. Adikku yang sekian lama hilang.

Ya..ya..tak salah lagi. Itu Kartiwan. Wajahnya putih bersih. Tak ada lip stick. Tak ada maskara.
Tak juga air mata.
Tapi, tatapannya hampa.



Disarankan: 0
  Komentar: 9 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



Jumat, 29 Agustus 2008 @ 19:29 WIB - Diari


tuhan
aku ingin kau di sampingku
malam ini terlalu sunyi untuk dilewati sendiri
aku ingin kau bernyanyi atau berkisah
tentang negeri yang jauh
negeri dengan cuaca yang bisa diterka
janji yang tak pernah dihianati

di sini
sunyi selalu membawa kabar
waktu yang selalu gugur percuma
hari yang dikubur luka.

tuhan
hatiku terkoyak
siapa melantakkan larik larik sajakku
melumatkan bahasa
menghancurkan kata kata
aku hanya bisa diam
aku hanya bisa bisu
aku hanya bisa tidak percaya
aku hanya bisa tidak mengerti
aku hanya bisa tidak melakukan segala
bahkan doa, kurasa, sudah tak bermakna.

perih

aku hanya bisa mati !

***

Sahabatku, kutulis surat ini hanya karena aku sudah tak mampu lagi menyimpannya dalam halaman-halaman perasaanku ini. Tentang kenyataan hidup ku.
Tentang ikatan napas ku bersama orang-orang tercinta yang terasa begitu kecil dalam pusaran raksasa kemewahan dunia ini.

Bagiku hidup ini terlalu rahasia. Seringkali aku ingin menumpahkan air mataku hanya karena telah begitu letih menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup ini; hanya karena tak tahu bagaimana lagi aku harus menumbuhkan kerelaan untuk melangkah.

Sahabatku, aku ingin menyelesaikan semua persoalan ini.
Aku ingin hidup tenang. Tetapi selalu saja tak kunjung bisa, hanya karena aku tak mampu mengeluarkan banyak jawaban yang nyata.

Aku memang sempat mengingat segalanya.
Masa silam yang teraba begitu saja, membuatku menemukan rasa sesal dan kecewa yang sangat dalam.
Aku gagal melahirkan anak-anak bernama kenangan dan pengalaman.

Ingin sekali aku demikian rapat menyembunyikan apapun yang membuatku sedih, tapi selalu saja tak bisa.
Ingin sekali aku menyimpan kesedihan ini dengan tabah, seperti juga orang tua yang sebenarnya demikian bertahan bertahun-tahun menyembunyikan kesedihan dari anaknya. Tapi yang terjadi padaku, keinginan untuk menyembunyikan kesedihan itu justru hanya keluh kesah panjang yang menghabiskan waktuku untuk mulai menjalani hidup ini dengan baik.

Sahabat, aku ingin meninggalkan semua ini.
Aku ingin pergi ke tempat yang benar-benar baru; tempat yang tak sedikitpun pernah merekam kehadiranku sebelumnya.


Aku telah menghabiskan waktu hanya untuk belajar mencerca kenyataan.
Penyakit ini telah melemparku ke dalam rimba ketakutan dan keraguan menghadapi dunia.
Telah kulewati waktu diantara hangar-bingar omong-kosong orang-orang.
Telah kupungut hidup diantara hilir-mudik keangkuhan dunia. Aku terseret-seret diantaranya.
Umurku tergilas di dalamnya.
Cintaku diinjak-injak diantaranya.
Rumah megah impianku digusur oleh kekonyolannya sendiri, dirubuhkan oleh kenyataan yang ada.
Aku dibakar di ruang keterasinganku sendiri.
Dunia berjalan lebih cepat meninggalkan impianku. Aku dicabik-cabik oleh rasa keterhinaan mengeja kalimat panjang sebuah kerumitan dunia.
Aku dihimpit jeritku sendiri.
Aku diejek ketidakmampuan, diejek ketidaksehatan.

Sahabatku hari-hariku terasa pendek dan nyeri.
Kusandarkan ia pada doa dan keberuntungan hari esok. Kalau-kalau…ah, selebihnya memang hanya menghemat kesedihan tanpa sedikitpun menguranginya.
Ingin sekali aku menjalani sisa usia ini dengan lantang, berpaut dengan keriuhan bumi.
Tapi ternyata hanya kesunyian yang ada.
Hingga tiba saatnya aku hanya percaya pada dua kawan, yaitu ketenangan dan kesunyian.

Inilah aku, sahabat.
Inilah aku yang akan mengisi sisa usia dengan gemetar.
Hanya melakukan sesuatu yang aku bisa, meski menelantarkan banyak hal yang lainnya.
Inilah aku yang menimang kekalahan dengan kedua tangan. Barangkali aku akan tenang hanya dengan memindahkan kekalahan ini ke tempat yang lain.

Aku tak tahu, beberapa bulan ke depan, atau beberapa tahun ke depan, jika kenyataan ini masih begini, kepergianku akan dimulai.
Hidup memang punya tikungan yang tak bisa kita tebak. Seperti juga hitungan tentang usia.
Bukankah setiap hitungan ke depan yang sudah kita ketahui angkanya belum tentu akan terhitung?
Karena kematian—direncanakan atau tidak—akan membawa kita kembali pada kekosongan.

Aku tahu tak ada perubahan.
Tapi aku punya satu perubahan yang kian tajam dalam jiwaku, yaitu dendam pada hidup.
Perasaan itu kian tumbuh dalam dadaku.
Semenjak vonis dokter itu menghujamku.
Aku tak tahu dendam itu kelak menjadi apa.
Apakah ia menjadi kemenangan atau justru kekalahan yang lebih hitam, aku tak tahu.
Tapi aku mulai merasakan, kesunyian telah menungguku, di ujung jalan itu.
Dan kelak tiba waktunya aku akan meninggalkan segalanya, termasuk apa yang benar-benar sangat aku cintai.

Ada saatnya aku mesti membuang seluruh kenangan dan kebersamaan, hanya karena mesti kembali pada pengertian bahwa diri ini sesungguhnya adalah puisi tentang kesendirian…

Terima kasih untuk sahabatku, Oceph, Mhimi, Haerul, Harzoe, Mas Koes, Ferror, Henceu, Bisot, Loiy, Deesan, Nia_bjm, dan semua, tak bisa kusebut semuanya, sesungguhnya, aku masih ingin tetap bersamamu...

Untuk yang selalu menemaniku tanpa lelah, mengingatkanku dikala lupa, membesarkan hatiku dikala aku jatuh.
Terimakasih, engkau telah memberiku ruang dan waktu,
relakan aku tetap berada di dalamnya...
meski hanya sejenak
meski hanya sejenak...


Disarankan: 0
  Komentar: 5 (Lihat) | Beri Komentar    Recommen | Print



S E L A N J U T N Y A »



 

-----------------------------------------------
AGENDA ACARA PESTA BUKU JAKARTA
----------------------------------------------- SAHABAT BLOGER ----------------------------------------------- 1. BAMBANG
2. RIRI
3. STEVI
4. TONGKI ARI WIBOWO
5. TISIANA DJULIAMIE
6. EFFENDI
7. JAHAR
8. NIE
9. ANDRIE
10. FAJAR GM
11. GANDHI
12. HANARA
13. JOHAN
14. YASIR -----------------------------------------------

Free shoutbox @ ShoutMix
Photobucket
-----------------------------------------------
free
bubu_okky
 
    » Profile
    » Buku Tamu
;; bukan cuma cinta segitiga ;;
;; wina berdiri di liang lahat
;; surat untuk sahabatku ;;
;; terbawa ombak "
" hari pun gugur percuma "
Arsip Blog 
CARI BLOG:
harry_zoe
sultan_haidir
tabarani
haerulsohib
anak_ayam
Total: 416 
Sastrawiguna
jejakjini
Mhimi the Blog
SEMUA TENTANG ART
finderstorm
selingkuh ya???????? ...
[blue]veg termasuk or...
wahhhhh .. wahhhhhhhh...
kenapa cinta kok mest...
tiap org memang punya...
 
 
Created on:
Jumat, 30 Mei 2008 @ 18:46 WIB
 
   
 
Tebarkan Amalan, tebarkan Senyuman
Drop Box
Yang diberikan Tuhan ....
Proviciat! HEBAT!
Lomba Cerpen 2008 ; deg-deg an!
mengapa jembatan busway p...
gundala 'son of thunder' ...
cerita dengan huruf “t”
the september
ayo download musikmu di s...
fannyfb
musikgratis
cheezy_aia
mediarepublika
osad
 
   
   
    Copyright © 2004 PT. INDOSIAR VISUAL MANDIRI